Tak terasa saya akan segera berusia kepala tiga — tahun depan jika umur panjang. Jika rata-rata umur manusia 60 tahun berarti sudah setengah usia saya jalani.

Di usia yang tidak muda lagi ini, beberapa hal yang saya rasakan:

1. I do what I do

Apa yang saya lakukan dalam kehidupan sepenuhnya karena keputusan saya dan bukan karena desakan orang lain, toh yang akan merasakan resiko dan hasilnya saya sendiri.

Jika sebelumnya masih terpengaruh oleh orang tua, teman-teman dan lingkungan, sekarang tidak lagi. Tentu saja tetap mempertimbangkan saran-saran orang terdekat, tapi keputusan akhir tetap saya yang memutuskan. Yang perlu ditunjukkan bahwa apa pun yang kita lakukan adalah atas dasar kebaikan dan bertanggung-jawab.

Hidup jangan kita habiskan untuk meraih mimpi orang lain.

2. Not afraid of mistakes

Usia dua puluhan itu masih idelis. Cenderung perfeksionis. Tujuan yang ideal harus tercapai lalu akibatnya takut melakukan kesalahan. Jika melakukan kesalahan terlalu dirasakan.

Belakangan saya menyadari, sebanyak apa pun pengalaman seseorang, ia tak akan sempurna. Bagi siapapun, hidup adalah pelajaran.

Jadi berusahalah yang maksimal, ambil resiko. Jangan terlalu takut salah, karena dari kesalahan itu kita belajar

3. Family is number one

Jika di usia muda saya banyak waktu untuk bekerja, lembur dan kerja di akhir pekan, sekarang tidak lagi.

Sepenting apapun pekerjaan, keluarga yang lebih penting. Jadi saya berusaha kerja yang efektif dan efisien. 

Lesa working time, more productivity.


Selamat tiga puluh, tom!

Advertisements

Pagi ini saya lari 5k, ada event gratisan yang diadakan IPB. Nothing special kecuali kali ini saya lari sambil dorong Anya di stroller.

Berangkat habis Subuh, untung malamnya udah siapin tas bekel baju ganti dan popok. Pagi tinggal goreng-goreng untuk bekal Anya.

Mungkin Anya sudah besar ya, dibilangin kalau hari ini main sama Ayah seharian karena ibunya kerja, nangis sebentar lalu lanjut tidur lagi di carseat. Nggak sedih-sedih banget pisah sama ibunya.

Karena acaranya bukan acara lari serius saya tidak ekspektasi berlebihan, baru mulai lari kayaknya jam 6.30. Ternyata lari sambil dorong stroller gampang-gampang susah, apalagi kalau jalannya bayak lobang dan jalurnya tidak disterilkan: masih banyak kendaraan yang lewat.

Kita akhirnya finish dan dikasi susu, sarapan bubur dan kopi oleh panitia.

Selamat Anya, besok-besok lari sendiri yah !!

Mas, kok ke stasiun Cilebut sih? Bukannya lebih dekat ke stasiun Bogor?

Kurang lebih begitu, pertanyaan dari para tukang ojek. Beberapa hari lalu tetangga saya yang biasa naik kereta dari stasiun Bogor juga menanyakan hal yang sama.

Awalnya Adin yang menyarakan saya untuk mencoba via stasiun Cilebut. Saya ragu karena sekilas memang dari tempat tinggal saya lebih dekat ke stasiun Bogor, tapi setelah saya hitung sepertinya sebaliknya loh. (Thanks Adin !)

Let’a do the math!

1. Waktu tempuh ke stasiun (dari google map)

Ke Bogor = 17 menit

Ke Cilebut = 26 menit

Beda 9 menit


2. Jalan Kaki

Stasiun Bogor dan Cilebut jauh berbeda dalam jarak jalan kaki dari drop point (angkot, ojek) ke peron.

Bogor = 6 menit

Cilebut = 2 menit
3. Jarak Tempuh Bogor – Cilebut

Ini juga perlu diperhitungkan karena bukan jarak ke stasiun Bogor atau Cilebut, tapi waktu tempuh ke stasiun tujuan.

Waktu tempuh dari stasiun Bogor ke Cikebut sesuai jadwal kereta = 9 menit
Jadi totalnya

Ke Bogor = 17 + 6 + 9 = 32 menit

Ke Cilebut = 26 + 2 = 28 menit

Jadi ke Cilebut bisa hemat waktu 4 menit.

Satu lagi faktor kenapa saya memilih Cilebut: krl kalau mau masuk stasiun Bogor sering sekali antri dan kadang bisa lumayan lama. Jadi efisiensi waktunya bisa lebih dari perhitungan di atas.

Halo,

Sudah sembilan bulan sejak postingan terakhir. Kebetulan memang saya sedang aktif menulis di platform lain. Saya membuat beberapa catatan perjalanan di sini: https://steller.co/tomialf/.

Jadi belum sempat lagi buka worpress. Dan saya juga ganti ponsel dari qwerty ponsel ke layar sentuh. Belum terbiasa ngetik banyak pake layar sentuh.

so,

WHAT’S THE  NEXT BIG THING?

Pertanyaan ini muncul di benak saya beberapa hari ini, berhubung dari kantor dapat assignment yang menurut saya tidak challenging. Dari situ saya mulai berpikir whats next? Apa iya mau gini-gini aja?

Di Gedebage, Bandung, sisa-sisa hujan masih tersisa. Sambil memegang gagang payung saya berjalan perlahan, melompati genangan-genangan air di atas aspal yang tidak rata. Jalan dari perumahan ke jalan utama lumayan jaraknya, gelap karena sisi-sisinya hanya lahan kosong, dan pos satpam kosong gelap tidak ada penjaganya.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

Mungkin kerena hujan lebat tidak ada sinyal di rumah teteh, jadi terpaksa saya mencari warnet. Weekend gini masih ada beberapa urusan kantor yang musti diselesaikan. Adin sudah tepar, dan Dinara main-main dengan Fira dan Daniel.

Ah, seperti saya duga, hari ini warnet tidak seperti zaman saya kuliah. Warnet sekarang itu lebih tepat disebut warung game online. Di tepi jalan Rancanumpang, yang sepi dan gelap, ada bangunan kusam yang masih agak ramai. Beberapa motor diparkir di depannya. Begitu saya masuk, bau asap rokok menusuk hidung saya. Di dalamnya barisan komputer berjejer panjang, dan anak-anak — kira-kira anak SMP-SMA — yang sibuk bermain game, beberapa sambil merokok.

Setelah beberapa kali saya panggil, baru sang penjaga yang juga sedang asyik main game menyahut.

“A, saya cuma mau browsing”, ujar saya yang dibalas dengan tatapan ganjil.

You are always haunted by the idea you are wasting your life.

Chuck Palahniuk, Diary

Email-email sudah saya kirim ke partner, dan saya mau kebali pulang. Semoga Dinara tidur jadi saya bisa kencan.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

 

Ditulis dari warnet di Rancanumpang

 

Jadi karena Adin kerja dan nggak ada yang jaga Adna terpaksa saya cuti di hari Rabu. Lumayan juga, untungnya ada ponakan neng Fira yang siap jadi asisten, bantu momong bayi.

Ngomong- ngomong 2015 yang baru saja berlalu, 2015 bagi saya tahun yang begitu cepat. Di kantor awal tahun nggak ada project, tapi di tengah tahun dapet project besar dan sampai akhir tahun terlalu sibuk jadi gak sempat menghitung hari.

Dan yang paling membahagiakan tentu saja lahirnya Dinara di bulan Mei. Hidup kami penuh dengan Dinara setiap waktu setiap detik.

Hari ini saya tidak kerja dan full day dengan Dinara. 🙂


Sepatu yang selama ini dipakai latihan sudah hancur jadi mesti cari sepatu lain. Sempat pakai sepatu adidas tapi malahan cedera. Akhirnya beli sepatu baru dan hanya sempat dijajal sampai 10k saja di seminggu sebelum race day. Masih belum cocok banget sih sama sepatunya tapi apa boleh buat.

The Day

Kami berangkat dari rumah pukul empat seperempat lalu shalat Subuh di rest area. Sampai parkiran stasiun Pondok Cina jam lima seperempat. Kata panitia gerbang UI ditutup dari jam lima dan saya juga tidak dapat tiket untuk masuk kendaraan yang khusus bagi 500 pengambil pertama racepack.

Sampai di Balairung UI suasana sudah ramai. Ketemu Teguh yang sama-sama mau lari 21k. Teman-teman lain belum kelihatan, kayaknya belum sampai. Segar sekali ya suasana pagi hari. Adna yang kami ajak naik stroller paling senang jalan-jalan pagi. Kalau biasanya cuma keliling komplek kali ini ke UI yang ada rotunda, gedung-gedung, danau dan hutan.

Sambil menunggu jam 6 saya pemanasan. Temen-temen sipil belum datang juga. Mendekati jam 6 saya dan Teguh siap-siap mendekati garis start. Saat saya lari nanti Adin dan Adna rencananya mau piknik duduk-duduk di tepi danau.

KM 1-5

Tepat jam 6 lari untuk kategori half marathon dimulai. Saya mengambil pace sedang, tidak terlalu lambat, tapi tidak terburu-buru. Karena baru dimulai trek masih sesak dan agak sulit menyusul peserta-peserta lain. Yang saya camkan dari awal adalah jangan terpengaruh oleh pace peserta lain, baik yang lebih cepat atau yang lebih lambat.

Dari garis start di rotunda UI trek lurus ke arah boulevard lalu belok kanan ke arah FMIPA. Lalu naik sedikit melewati Pusgiwa dan FT. Lalu memutar melewati gym dan poltek dan terus kembali lagi ke boulevard.

Tidak ada masalah berarti di 5 km pertama. Ada dua hydration point dimana panitia memberi air minum. Sempat dikasi mizone jadi malahan haus. Selanjutnya saya selalu minta air putih saja.

KM 5-10

Dari boulevard peserta 5k akan kembali ke rotunda sedangkan yang lainnya mengikuti rute ke arah stasiun UI. Lepas km 5 berarti sudah Seperempat jarak ditempuh. Saya menaikkan pace mumpung energi masih ada.

Tepat sebelum gerbang UI itu km 7. Rute dilanjutkan menuju ke arah makara UI. Di sana saya melihat mobil-mobil mengantri dari arah Kelapa Dua karena gerbang UI ditutup.

Sampai di pintu keluar ke jalan Lenteng Agung peserta 10k berputar. Sedangkan peserta 21k melanjutkan rute ke arah asrama, wisna makara sampai FT. KM 10 berada di tengah antara asrama dan FT. Saya masih merasa fit dan berpikir sudah setengah jalan, tinggal setengah lagi. Saya kembali ke pace sedang.

KM 10-15

Kesalahan saya adalah melihat ipod. Dari situ saya melihat waktu baru pukul 7 berarti pace saya di angka 6 menit per km. Terhitung cepat karena rata-rata saya di 8 menit/km. Karena menghitung-hitung pace dan merasa masih banyak waktu, ritme lari jadi berubah. Ritme lari berubah, mental mulai melemah dan stamina mulai terasa berkurang.

Dari FT rute dilanjutkan ke FE sampai FPsi. Karena ritme lari yang terganggu nyeri di telapak kanan mulai terasa. Di hydration point depan FPsi saya pindah ke jalan cepat.

Karena nyeri terasa dan tubuh mulai dingin saya tidak bisa kembali lagi ke ritme awal. Selanjutnya saya melakukan kombinasi lari dan jalan cepat. Masalahnya walupun dipakai jalan cepat, kaki masih terasa sakit.

Dari FPsi rute diputar kembali lagi ke FE dan FT lalu melewati lagi jalur lingkar luar UI ke asrama. Di jalur itu saya merasa mulai jatuh mental. Kaki yang semakin terasa nyeri dan peserta-peserta lain banyak yang menyusul.

KM 15-19

Km 15 berada di wisma makara. Rute dilanjutkan kembali ke arah Balairung. Karena latihan saya baru sampai 14K berarti setelah ini adalah jarak yang tidak terduga, jarak yang belum pernah saya capai sebelumnya. Dengan kondisi nyeri di telapak kaki kanan, stamina yang terkuras, masih ada jarak 6 km lagi yang harus ditempuh. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di 6 km terakhir ini. 

Ketika melewati pos satpam dekat mang Engking, kira-kira di km 16.5, jam dinding di sana menunjukkan pukul 8 lewat sepuluh menit. Dari situ saya yakin kalau saya pasti finish dalam cut off time 3.5 jam walaupun dengan terus berjalan.

Tapi saya masih mencoba lari sebisa mungkin. Pindah ke jalan cepat ketika nyeri sudah tidak tertahan. Semakin siang matahari mulai terik. Suara bising kendaraan mulai terdengar. Ini juga menambah stress.

KM 19- finish

Ini adalah rute yang paling menyiksa. Ketika sampai balairung rute diputar melewati rotunda drkat finish line, tapi masih diputar lagi ke belakang fmipa, perpus, fasilkom, science park, mui baru kembali lagi ke balairung. Ketika lewat sana banyak peserta yang sudah mengalungkan medali.

Tapi akhirnya saya finish juga. Walapun tertatih sejak km 15, saya finish dalam waktu 3 jam 3 menit. Pace 8.6 menit/km.

  

  
Post-Race Note:

– cukup puas karena memang target saya finish dalam 3 jam. Sedikit kecewa karena sebenarnya saya bisa lebih baik.

– tidak perlu menghitung-hitung pace. Selama tetap lari waktunya akan bagus. Menjaga ritme lebih penting karena kalau sudah dingin tidak akan bisa kembali ke ritme semula

– latihan lagi untuk memperbaiki teknik lari, melatih otot dan stamina dan juga mencari sepatu yang cocok.

– special thanks untuk Adin, Adna dan keluarga. Teguh si teman sama-sama impulsif mau lari 21k. Toni yang akhirnya bisa lari 10k. Widi, Akmal, Iqbal, Tria yang mau ikutan juga 5k. Anggi dan Jae yang sengaja jauh-jauh datang untuk memberi selamat. Juga pada mapala ui dan panitia runforiver 2015. Terima kasih semuanya!!

 

Setelah 21k