Di pusat perkantoran, Mega Kuningan, di kursi salah satu minimarket saya duduk.

Satu pria berkemeja biru muda dan celana khaki membeli tiga pak rokok dan satu kotak minuman cokelat.

Tiga wanita duduk mengelilingi meja sambil berbicara dan menyulut batang rokok yang kedua.

Satu pria berwajah Asia Selatan memakan pasta instan yang baru dihangatkan di tungku gelombang dari minimarket. Minumnya jus buah dalam botol plastik.

Satu pria berbadan besar membeli kopi di gelas kertas yang kecil.

Wanita tadi yang merokok membuka ponsel dan memainkan permainan candy crush.

Beberapa pria wanita asing berkulit putih berlalu-lalang.

Advertisements

Tak terasa saya akan segera berusia kepala tiga — tahun depan jika umur panjang. Jika rata-rata umur manusia 60 tahun berarti sudah setengah usia saya jalani.

Di usia yang tidak muda lagi ini, beberapa hal yang saya rasakan:

1. I do what I do

Apa yang saya lakukan dalam kehidupan sepenuhnya karena keputusan saya dan bukan karena desakan orang lain, toh yang akan merasakan resiko dan hasilnya saya sendiri.

Jika sebelumnya masih terpengaruh oleh orang tua, teman-teman dan lingkungan, sekarang tidak lagi. Tentu saja tetap mempertimbangkan saran-saran orang terdekat, tapi keputusan akhir tetap saya yang memutuskan. Yang perlu ditunjukkan bahwa apa pun yang kita lakukan adalah atas dasar kebaikan dan bertanggung-jawab.

Hidup jangan kita habiskan untuk meraih mimpi orang lain.

2. Not afraid of mistakes

Usia dua puluhan itu masih idelis. Cenderung perfeksionis. Tujuan yang ideal harus tercapai lalu akibatnya takut melakukan kesalahan. Jika melakukan kesalahan terlalu dirasakan.

Belakangan saya menyadari, sebanyak apa pun pengalaman seseorang, ia tak akan sempurna. Bagi siapapun, hidup adalah pelajaran.

Jadi berusahalah yang maksimal, ambil resiko. Jangan terlalu takut salah, karena dari kesalahan itu kita belajar

3. Family is number one

Jika di usia muda saya banyak waktu untuk bekerja, lembur dan kerja di akhir pekan, sekarang tidak lagi.

Sepenting apapun pekerjaan, keluarga yang lebih penting. Jadi saya berusaha kerja yang efektif dan efisien. 

Lesa working time, more productivity.


Selamat tiga puluh, tom!

Pagi ini saya lari 5k, ada event gratisan yang diadakan IPB. Nothing special kecuali kali ini saya lari sambil dorong Anya di stroller.

Berangkat habis Subuh, untung malamnya udah siapin tas bekel baju ganti dan popok. Pagi tinggal goreng-goreng untuk bekal Anya.

Mungkin Anya sudah besar ya, dibilangin kalau hari ini main sama Ayah seharian karena ibunya kerja, nangis sebentar lalu lanjut tidur lagi di carseat. Nggak sedih-sedih banget pisah sama ibunya.

Karena acaranya bukan acara lari serius saya tidak ekspektasi berlebihan, baru mulai lari kayaknya jam 6.30. Ternyata lari sambil dorong stroller gampang-gampang susah, apalagi kalau jalannya bayak lobang dan jalurnya tidak disterilkan: masih banyak kendaraan yang lewat.

Kita akhirnya finish dan dikasi susu, sarapan bubur dan kopi oleh panitia.

Selamat Anya, besok-besok lari sendiri yah !!

Mas, kok ke stasiun Cilebut sih? Bukannya lebih dekat ke stasiun Bogor?

Kurang lebih begitu, pertanyaan dari para tukang ojek. Beberapa hari lalu tetangga saya yang biasa naik kereta dari stasiun Bogor juga menanyakan hal yang sama.

Awalnya Adin yang menyarakan saya untuk mencoba via stasiun Cilebut. Saya ragu karena sekilas memang dari tempat tinggal saya lebih dekat ke stasiun Bogor, tapi setelah saya hitung sepertinya sebaliknya loh. (Thanks Adin !)

Let’a do the math!

1. Waktu tempuh ke stasiun (dari google map)

Ke Bogor = 17 menit

Ke Cilebut = 26 menit

Beda 9 menit


2. Jalan Kaki

Stasiun Bogor dan Cilebut jauh berbeda dalam jarak jalan kaki dari drop point (angkot, ojek) ke peron.

Bogor = 6 menit

Cilebut = 2 menit
3. Jarak Tempuh Bogor – Cilebut

Ini juga perlu diperhitungkan karena bukan jarak ke stasiun Bogor atau Cilebut, tapi waktu tempuh ke stasiun tujuan.

Waktu tempuh dari stasiun Bogor ke Cikebut sesuai jadwal kereta = 9 menit
Jadi totalnya

Ke Bogor = 17 + 6 + 9 = 32 menit

Ke Cilebut = 26 + 2 = 28 menit

Jadi ke Cilebut bisa hemat waktu 4 menit.

Satu lagi faktor kenapa saya memilih Cilebut: krl kalau mau masuk stasiun Bogor sering sekali antri dan kadang bisa lumayan lama. Jadi efisiensi waktunya bisa lebih dari perhitungan di atas.

Halo,

Sudah sembilan bulan sejak postingan terakhir. Kebetulan memang saya sedang aktif menulis di platform lain. Saya membuat beberapa catatan perjalanan di sini:Β https://steller.co/tomialf/.

Jadi belum sempat lagi buka worpress. Dan saya juga ganti ponsel dari qwerty ponsel ke layar sentuh. Belum terbiasa ngetik banyak pake layar sentuh.

so,

WHAT’S THE Β NEXT BIG THING?

Pertanyaan ini muncul di benak saya beberapa hari ini, berhubung dari kantor dapat assignment yang menurut saya tidak challenging. Dari situ saya mulai berpikir whats next? Apa iya mau gini-gini aja?

Di Gedebage, Bandung, sisa-sisa hujan masih tersisa. Sambil memegang gagang payung saya berjalan perlahan, melompati genangan-genangan air di atas aspal yang tidak rata. Jalan dari perumahan ke jalan utama lumayan jaraknya, gelap karena sisi-sisinya hanya lahan kosong, dan pos satpam kosong gelap tidak ada penjaganya.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

Mungkin kerena hujan lebat tidak ada sinyal di rumah teteh, jadi terpaksa saya mencari warnet. Weekend gini masih ada beberapa urusan kantor yang musti diselesaikan. Adin sudah tepar, dan Dinara main-main dengan Fira dan Daniel.

Ah, seperti saya duga, hari ini warnet tidak seperti zaman saya kuliah. Warnet sekarang itu lebih tepat disebut warung game online. Di tepi jalan Rancanumpang, yang sepi dan gelap, ada bangunan kusam yang masih agak ramai. Beberapa motor diparkir di depannya. Begitu saya masuk, bau asap rokok menusuk hidung saya. Di dalamnya barisan komputer berjejer panjang, dan anak-anak — kira-kira anak SMP-SMA — yang sibuk bermain game, beberapa sambil merokok.

Setelah beberapa kali saya panggil, baru sang penjaga yang juga sedang asyik main game menyahut.

“A, saya cuma mau browsing”, ujar saya yang dibalas dengan tatapan ganjil.

You are always haunted by the idea you are wasting your life.

Chuck Palahniuk, Diary

Email-email sudah saya kirim ke partner, dan saya mau kebali pulang. Semoga Dinara tidur jadi saya bisa kencan.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

 

Ditulis dari warnet di Rancanumpang

 

Jadi karena Adin kerja dan nggak ada yang jaga Adna terpaksa saya cuti di hari Rabu. Lumayan juga, untungnya ada ponakan neng Fira yang siap jadi asisten, bantu momong bayi.

Ngomong- ngomong 2015 yang baru saja berlalu, 2015 bagi saya tahun yang begitu cepat. Di kantor awal tahun nggak ada project, tapi di tengah tahun dapet project besar dan sampai akhir tahun terlalu sibuk jadi gak sempat menghitung hari.

Dan yang paling membahagiakan tentu saja lahirnya Dinara di bulan Mei. Hidup kami penuh dengan Dinara setiap waktu setiap detik.

Hari ini saya tidak kerja dan full day dengan Dinara. πŸ™‚