MALAM MINGGU DI GEDEBAGE

Di Gedebage, Bandung, sisa-sisa hujan masih tersisa. Sambil memegang gagang payung saya berjalan perlahan, melompati genangan-genangan air di atas aspal yang tidak rata. Jalan dari perumahan ke jalan utama lumayan jaraknya, gelap karena sisi-sisinya hanya lahan kosong, dan pos satpam kosong gelap tidak ada penjaganya.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

Mungkin kerena hujan lebat tidak ada sinyal di rumah teteh, jadi terpaksa saya mencari warnet. Weekend gini masih ada beberapa urusan kantor yang musti diselesaikan. Adin sudah tepar, dan Dinara main-main dengan Fira dan Daniel.

Ah, seperti saya duga, hari ini warnet tidak seperti zaman saya kuliah. Warnet sekarang itu lebih tepat disebut warung game online. Di tepi jalan Rancanumpang, yang sepi dan gelap, ada bangunan kusam yang masih agak ramai. Beberapa motor diparkir di depannya. Begitu saya masuk, bau asap rokok menusuk hidung saya. Di dalamnya barisan komputer berjejer panjang, dan anak-anak — kira-kira anak SMP-SMA — yang sibuk bermain game, beberapa sambil merokok.

Setelah beberapa kali saya panggil, baru sang penjaga yang juga sedang asyik main game menyahut.

“A, saya cuma mau browsing”, ujar saya yang dibalas dengan tatapan ganjil.

You are always haunted by the idea you are wasting your life.

Chuck Palahniuk, Diary

Email-email sudah saya kirim ke partner, dan saya mau kebali pulang. Semoga Dinara tidur jadi saya bisa kencan.

Malam Minggu yang sepi di pinggiran kota Bandung.

 

Ditulis dari warnet di Rancanumpang

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: