MENUJU HALF-MARATHON

“Serius tom lo ambil yang 21k ?”

“Hati-hati nanti pingsan malah nyusahin orang”

“Gw bingung nih mau nyemangatinnya gimana ya”

Itulah beberapa komentar dari banyak komentar lainnya yang kurang lebih senada ketika saya bilang akan ikut event lari 21k. Memang 21k itu bukan jarak yang pendek. Kalau dari jalan Ahmad Yani lalu terus ke istana lalu mengelilingi kebun raya lalu balik lagi ke Ahmad Yani, maka butuh tiga kali jarak tersebut supaya bisa mencapai jarak 21k. Kalau dari stasiun Bogor kira-kira 21k itu sampai stasiun Depok. Nah, jauh kan?

Ketika mendaftar mungkin saya sedang impulsif, dan setelah sadar sejauh apa 21k itu saya agak panik. Padahal eventnya hanya dua bulan setelahnya. Apakah cukup untuk melatih lari sejauh itu? Padahal biasanya 3k saja saya sudah ngos-ngosan.

Dari hasil baca-baca artikel tentang lari, tipsnya berlatih jangan langsung jarak jauh. Mulai lari sedikit dan dinaikkan sedikit demi sedikit, karena otot dan tubuh butuh penyesuaian. Istilahnya tapering.

Di awal Juli, waktu itu bulan puasa, saya mulai lari 3 km, dua kali seminggu. Lari 3k saja engkel kaki jadi sakit. Tapi setelah beberapa kali lari jadi terbiasa. Selanjutnya jaraknya saya naikkan ke 5k. Hal yang sama terjadi, kaki jadi sakit tapi setelahnya mulai terbiasa.

Ketika ingin latihan 10k saya mencari lokasi yang nyaman karena latihan akan agak panjang. Jadi saya memilih latihan di lintasan atletik stadion UI. Butuh 25 keliling untuk mencapai jarak 10k. Agak stress juga karena lintasan yang monoton berulang-ulang. Ditambah terik matahari yang menyengat karena saya baru mulai lari jam 7, padahal rencananya jam 6. Tapi syukur 10k dapat dicapai dengan catatan waktu yang cukup.

Selanjutnya jarak yang paling jauh saya latihan adalah 14k. Waktu itu dua minggu sebelum race-day. Saya latihan di Ahmad Yani – Air Mancur. Butuh 4 kali keliling supaya tercapai 14 k.

Seharusnya selanjutnya saya latihan sampai 18k, karena dari 14k ke 21k masih ada gap 7k dimana otot dan tubuh belum terbiasa. Tapi karena keterbatasan waktu, seminggu sebelumnya saya hanya latihan 10k. Saat itu 10k terasa ringan padahal sebelumnya cuma kuat 3k. Itulah efek latihan!!

Latihan bukan hanya melatih otot dan stamina, tapi juga melatih teknik berlari. Dalam lari jarak jauh, efisiensi sangat penting. Maksudnya sebisa mungkin economy run, minimum energi, pace maksimal. Ini yang sampai sekarang saya masih belajar. Untuk bisa berlari efisien perlu tau teknik menapak, sepatu yang cocok, teknik mengayun, dan lainnya.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: