RAMADHAN PERTAMA BERSAMA ADNA

16 Juli 2015

Serunya hari-hari terakhir Ramadhan di kota Bogor: di pagi hari jalan raya sepi. Hanya terlihat beberapa angkot dan sedikit mobil dan sepeda motor. Tidak ada anak sekolah, tidak ada orang yang terburu-buru. Stasiun pun jauh lebih lengang dari pagi-pagi yang biasa.

Salah satu ormas sudah melakukan hisab dan memperkirakan bahwa hari raya akan jatuh pada hari Sabtu. Juga diperkirakan dengan nilai derajat itu, kemungkinan akan terlihatnya hilal nanti sore sangat kecil. Namun begitu tentu itu baru sebatas perhitungan. Jika Maghrib nanti hilal terlihat maka besok Jumat hari raya.

Ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena hadirnya Adna dalam keseharian kami. Ditambah pula berat badan Adna yang di bawah berat minimal pada usianya, pekerjaan kami sebagai orang tuanya bertambah.

Awalnya kami tidak terlalu cemas dengan berat badan Adna, tapi setelah membaca beberapa referensi dan membandingkan dengan teman-teman yang lahir di bulan yang sama, memang berat Adna jauh di bawah. Satu dokter memberi obat pencernaan, dikhawatirkan Adna ada masalah di pencernaannya. Tapi setelah satu dua pekan tidak ada penambahan signifikan.

Karena saran seorang teman kami pergi konsultasi ke dokter anak di Sentul. Dokter ini mengobservasi dengan baik mulai dari data kelahiran, proses menyusui, penyakit bayi, yang menurutnya semua normal dan seharusnya berat badannya tidak kurang. Lalu kemudian diperiksa lah bagian mulut Adna. Dokter ini meyimpulkan ada kemungkinan tongue-tie (ankyloglossia) dan lip tie.

Bukannya kami tidak pernah mendengar istilah ini. Kami sudah pernah membaca beberapa artikel tentang tongue-tie tapi kami tidak menemukan gejala yang sama pada Adna. Kami sudah melihat lidah Adna dan kelihatannya tidak sama dengan foto-foto tentang tongue tie. Bayi yang memiliki tongue tie juga menurut referensi menyebabkan puting ibunya lecet, namun hal ini tidak terjadi pada Adin.

Setelah itu kami dirujuk ke dokter yang spesialis menangani tongue tie di Depok. Menurut dokter ternyata tipe tongue-tie Adna adalah yang saru, tipe sub-mukosa. Dan lip-tie nya grade 4. Pagi itu dilakukan fretonomi pada mulut Adna, yaitu pada bawah lidahnya untuk memotong sub-mukosa dan juga pada bibir atasnya. Selanjutnya karena berat badan Adna kurang dan masuk kategori gizi buruk, maka dokter menyarankan penggunaan sns (supplemental nursin system) ditambah susu formula dengan dosis tertentu per hari. Jadilah sehari-hari kami berkutat dengan sns dan dosis supplementasi Adna.

Hari ini adalah jadwal kontrol pertama. Pagi-pagi kami meluncur melewati jalan raya Parung menuju Sawangan Depok. Syukurnya jalanan Parung lancar, hanya sedikit tersendat di dekat pasar Parung. Syukurnya juga hari ini –seminggu setelah fretonomi– dan tambahan supplementasi, berat Adna bertambah cukup baik. Dokter menurunkan dosis formula dari sebelumnya. Alhamdulillah.

***

Ramadhan dengan kehadiran bayi terasa berbeda, khususnya bagi Ibunya yang menyusui siang dan malam. Saya juga membantu sebisanya sepulang kerja. Pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh kami berdua terasa bertambah: cuci jemur baju anak, urusan botol asip, susu anak, sampah popok kotor, kamar yang harus sering dibersihkan, diganti spreinya. Juga urusan menjaga nutrisi ibunya mulai dari belanja susu, makanan dan memastikan ibunya makan teratur dan bergizi.

Jika biasanya kita sering keliling tarawih dan mabit di masjid-masjid kali ini tidak bisa. Hanya dua kali kami bertiga tarawih di luar. Sisanya biasanya saya sendiri tarawih di luar, atau saya hanya shalat isya di luar lalu shalat tarawih di rumah.

Terlepas dari itu semua kami berusaha memaksimalkan Ramdhan kali ini. Cara paling mudah mendapatkan malam lailatul qodar: memaksimalkan setiap malam. Tidak perlu pilih-pilih malam ganjil atau mengira-ngira dari suasana langit. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya ada saja satu hari saya lalai tidak menghidupkan malam, kali ini semoga itu tidak terjadi. Ada satu malam dimana bangun terasa begitu berat. Begitu seru pertarungan dalam hati antara bangun atau melanjutkan nyenyaknya tidur. Tapi membayangkan melewatkan lailatul qadr dan melewatkan kesempatan ampunan begitu menyedihkan dan menyesalkan, sehingga akhirnya kemalasan bisa dikalahkan juga.

***

Bisa jadi hari ini adalah siang terakhir Ramadhan 1436 H. Sepulang dari Depok kami semua kelelahan dan tertidur sampai sore. Terasa sedihnya ketika Ramadhan akan segera pergi. Seiring matahari yang pelan-pelan tenggelam ke ufuk Barat, saat itu juga sisa dekapan Ramadhan pelan-pelan pergi.

Saya selalu ingin merasakan Ramadhan sampai detik terakhirnya, sampai sisa-sisa terkahirnya. Ingin rasanya mendekap jemari Ramadhan yang akan pergi: Jangan pergi dulu, aku masih butuh kamu, butuh ampunan Tuhanmu.

Menteri agama di televisi mengumumkan bahwa hilal telah terlihat, artinya besok hari raya. Seiring dengan suara petasan dan takbir yang mulai mengalun, itu artinya Ramadhan telah pergi. Maghrib itu, di sisa detik-detik Ramadhan, kami lantunkan doa pamungkas:

“Allahumma innaka afuwwun kariim, tuhibbul afwa, fa’fuanna ya kariim”.

Ja’alanaAllahu wa iyyakum minal aaidin wal faaizin, taqabalallhu minna wa minkum.

Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah ampuni dosa-dosa kita, Allah terima amalan-amalan kita, menjauhkan kita dari api neraka dan meridhoi kita semua. Aamiin ya rabbal aalamiin.

– Hastomi, Adin dan Adna –

Bogor, 16 July 2015. 1 Syawal 1436 H.

Adna setelah Fretonomi

Adna setelah Fretonomi

Adna kotrol 16 July 2015

Adna kontrol 16 July 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: