RITUAL PAGI: POM BENSIN TOTAL

Selepas dari Jalan Ahmad Yani yang rimbun, angkot yang saya naiki akan melewati Air Mancur. Tepat sebelum Air Mancur, di sisi kiri jalan ada pom bensin Total. Ya, pom bensin milik perusahaan Perancis itu. Ada juga minimarket Bonjour di sana. Sepuluh tahun yang lalu jika saya ke tempat ini maka akan menemukan restoran Hartz Chicken Buffet. Sayangnya restoran itu sudah tutup dan kini berganti menjadi pom bensin.

Air Mancur sendiri menurut saya bukan lokasi yang bagus untuk sebuah pom bensin. Lain halnya jika untuk café atau restoran. Tapi bukan lokasi yang buruk juga sih. Coba bayangkan kamu menyusuri jalan dari Jambu Dua – Air Mancur – Jalan Sudirman – Jalan Juanda – Pasar Bogor – Tugu Kujang, tidak ada satupun pom bensin yang terlewati. Lalu lanjutkan lagi melalui jalan Pajajaran ke arah utara, lalu ke jalan Jalak Harupat (Sempur) dan kembali lagi ke depan istana, tidak ada satu pun pom bensin yang terlewati.

Ada satu hal yang menurut saya sangat disayangkan dari pom bensin Total itu. Semua restoran dan café sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Sudirman, sisi belakangnya menghadap Timur dimana di sana terdapat lembahan dengan pemandangan yang lumayan. Di lembahan ini mengalir sungai Ciliwung dan di sisinya ada pemukiman. Di lembah itu lah jalan Ciremai, yang menghubungkan antara Taman Kencana dan pasar Jambu Dua. (ya, ya, I can draw map in my head..)

Menghadap Timur? Ya, matahari terbit. Di pagi hari sisi Timur jalan Ahmad Yani dan Sudirman kita akan bisa melihat matahari yang mulai naik perlahan-lahan dengan cahaya kekuningan yang hangat. Café dan restoran tidak ada yang buka pagi-pagi. Tapi Bonjour buka dari jam 6 pagi, menjual snack dan minuman panas dengan harga yang masuk akal, tapi sayangnya tempat duduknya jauh dari menghadap Timur. Malahan dibatasi tembok dan tidak banyak cahaya yang masuk. Sayang sekali.

Jika saya manajer pom bensin Total maka yang akan saya lakukan: Membuat semacam deck yang menghadap ke arah Timur supaya mobil yang telah mengisi bensin bisa lewat sana, lalu berhenti sebentar, dan ada bagian juga untuk duduk dengan meja dan kursi. Lalu membuat drive thru untuk minumam panas dan snack. Supaya mobil-mobil yang lewat, yang bisa jadi supir yang mengantar anak-anak sekolah, pekerja kantor, supir angkot, bisa mampir untuk minum minuman panas sambil menikmati cahaya matahari pagi.

Tapi sayangnya saya bukan manajer tempat itu. Hanya seseorang yang naik angkot pagi-pagi melewati depan pom bensin itu. Setiap hari.

*Serial #ritualpagi bercerita tentang renungan saya dalam perjalanan dari rumah ke stasiun setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: