RITUAL PAGI: ANAK SEKOLAH

Langit masih gelap, tapi di ujungnya sudah mulai terlihat terang. Saya membuka gembok pagar, lalu meletakkannya di atas meja teras. Setelah mengecup istri saya dan memberi lambaian tangan, lalu saya berjalan menyusuri jalan aspal menuju jalan raya. Di tengah-tengah itu selalu saya berpapasan dengan tetangga dengan anjing hitamnya sedang berjalan-jalan pagi. Di lain waktu saya melihat orang-orang tua berjalan pagi.

Saya tidak heran dengan yang kakek-kakek atau nenek-nenek. Tapi kalau ada orang muda, saya berpikir: ternyata ada ya orang yang tidak perlu berangkat pagi-pagi ke kantor? Mungkin pekerjaannya pengusaha, atau orang-orang yang kerja di Bogor? Tentu mereka tidak perlu berangkat pagi-pagi. Atau bisa jadi tidak punya pekerjaan alias pengangguran.

Omong-omong pengangguran saya jadi beryukur karena punya pekerjaan. Ada orang yang sudah berusaha keras tapi tidak juga dapat pekerjaan. Dan ada juga – yang baru-baru ini saya ketahui—orang-orang yang tidak bekerja karena mereka tidak perlu bekerja.

Jika sudah sampai pinggir jalan raya maka saya harus menyeberang untuk menyetop angkot. Angkot yang kosong akan membawa saya lebih lama ke stasiun karena mereka akan ngetem. Mereka akan membuntuti angkot-angkot yang ke Pasar Anyar dan berharap ada yang turun untuk melanjutkan naik angkot mereka ke stasiun. Kalau sudah begini saya jadi kesal sendiri. Makanya saya lebih memilih angkot yang penuh.

Angkot yang penuh umumnya diisi setengahnya oleh pelajar, lalu sisanya oleh para pekerja seperti saya. Anak-anak sekolahan sudah ramai karena mereka masuk pukul 7. Ada yang turun di dekat Bogor Permai, kemungkinan mereka anak SMPN 11. Ada yang turun di jalan Juanda berarti mereka sekolah di Regina Pacis. Kalau yang turun di pertigaan SMAN 1 Bogor berarti mereka anak smansa atau spensa. Kalau di bawah lagi berarti anak Budi Mulia. Kalau turun di depan matahari dan berseragam putih merah, kemungkinan mereka anak SDN Polisi. Kalau turun dekat penjara, berarti anak SMPN 7.

Ketika melihat wajah-wajah anak sekolahan tersebut saya selalu penasaran apa sih yang mereka lakukan di sekolah. Apakah sama seperti saya waktu dulu? Atau pelajaran mereka lebih sulit sekarang ini?

*Serial #ritualpagi bercerita tentang renungan saya dalam perjalanan dari rumah ke stasiun setiap hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: