STEVE JOBS: THE REALITY DISTORTION FIELD

Kalau belum pernah pakai, kayaknya kamu harus cobain deh beli produk Apple.

Kenapa? Sekedar mencoba, bagaimana rasanya memakai produk yang didesain oleh Steve Jobs. Steve Jobs tidak diragukan lagi, adalah salah satu inventor terbaik abad ini. Walaupun sudah meninggal, produk Apple saat ini mungkin masih ada sentuhan Steve Jobs di dalamnya. Kita nggak akan tau produk-produk Apple selanjutnya akan seperti apa kan?

Saya sedang membaca buku biografi Steve Jobs yang ditulis Walter Isaacson. Steve Jobs bukan engineer yang brilian. Apple I dan Apple II adalah karya “tangan sihir’ Wozniak, seorang geek. Tapi tanpa Steve Jobs, hasil kerja Wozniak akan berakhir di gudang, jadi rongsokan.

Salah satu kemampuan Jobs adalah kemampuannya menggerakkan orang-orang, dengan visi dan schedule yang impossible. Lebih dari itu, kharisma Jobs digambarkan oleh karyawannya bagaikan reality distortion field.

Bud Tribble, salah satu karyawan Apple menjelaskan:

“In his presence, reality was malleable. He could convince anyone of practically anything. It wears off when he’s not around, but it makes it hard to have realistic schedule.”

Wozniak menjelaskan:

“His reality distortion is when he has an illogical vision of the future, such as telling me that I could design the Breakout game in just a few days. You realize that it can’t be true, but he somehow makes it true.”

Jobs menerapkan distorsi realitanya untuk memperdaya dirinya sendiri. Seperti ditulis Walter Isaacson di biografi Jobs:

He would assert something without even considering the truth. It came from willfully defying reality, not only to others but to himself.

Bill Atkinson, salah satu desainer Macintosh:

“He can deceive himself, It allowed him to con people into believing his vision, because he was personally embraced and internalized it”.

Debi Coleman bilang:
“It was a self-fulfilling distortion. You did the impossible, because you didn’t realize it was impossible.”

Kok bisa ya seperti itu? Kerena ternyata Jobs berkeyakinan bahwa kenyataan di dunia ini tidak berlaku untuk dia. Rules didn’t apply to him. Bahkan saat sebelum dikenal, saat masih remaja, Jobs berkeyakinan bahwa dia adalah salah satu manusia yang spesial, layaknya Einstein atau Gandhi. Jobs menganggap dirinya adalah salah satu manusia yang ‘tercerahkan’.

Pada tahun 2004, saat itu Apple belum benar-benar sukses (Iphone direlease tahun 2007), Jobs menelepon Walter Isaacson (penulis biografi Benjamin Franklin dan Einstein) dan memintanya untuk menulis biografinya. Isaacson menolak (dengan halus) karena menurutnya saat itu ‘belum saatnya’. Atau mungkin Isaacson beranggapan bahwa Jobs tidak sebanding dengan orang-orang yang biografinya dia tulis.

Isaacson baru mau menulis setelah istri Jobs memberitahu bahwa kesehatan Jobs sudah menurun, dan jika ingin menulis biografi Jobs, maka sebaiknya secepatnya, sebelum kondisi Jobs semakin menurun.

At his home in Woodiside, 1982: He was such a perfectionist that he had trouble buying furniture (src: Diana Walker Photos)

At his home in Woodiside, 1982: He was such a perfectionist that he had trouble buying furniture (src: Diana Walker Photos)

Dalam foto di atas terlihat saking perfeksionisnya dia tidak menemukan furniture yang sesuai dengan keinginannya. Bayangkan jika orang seperti itu membuat suatu produk?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: