JAM TANGAN KESAYANGAN

Sayup-sayup terdengar pengumuman dari awak krl. Mata kubuka setengah, karena yang setengah lagi sulit. Orang-orang berjalan. Tempat duduk rasanya bergoyang-goyang karena langkah mereka.

Kini mataku tiga perempat terbuka. Tanganku masih memeluk ransel di pangkuan. Kupandangi orang-orang yang berjalan, satu, dua, lima, sembilan. Kok tak ada yang benar-benar cantik atau tampan? Apa kelelahan merenggut keindahan dari wajah manusia? Jangan-jangan wajahku pun sama dengan orang-orang itu? (walaupun aku selalu mengingkarinya)

Kini mataku terbuka tujuh per delapan. Kukerahkan sisa tenaga yang ada. Aku ikut berjalan dan keluar dari pintu gerbong terdekat. Eh! Hujan!!

Kini mataku terbuka penuh. Kurogoh-rogoh isi ransel mencari payung. Hujannya cukup deras. Nampaknya Bogor sedang mengukuhkan dirinya sebagai ‘kota hujan’. Padahal Jakarta seharian tadi panas sekali. Dan aku yakin sekali Jakarta pun saat ini masih panas.

Aku berjalan meniti peron, melalui jalur pejalan yang lebar, gerbang elektronik, melewati tawaran-tawaran tukang ojek (bahkan sekarang ada tukang ojek wanita) lalu sampai di pinggir jalan. Masih ramai. Terutama tukang tahu yang berteriak “tiga ribu (dapat) sepuluh!!”. Ini harga spesial karena malam sudah larut.

Aku menyebrang jalan, melewatkan klakson-klakson mobil, lalu sekali lagi melewatkan teriakan-teriakan calo angkot, dan naik salah satu angkot. Ya, angkot, kendaraan dimana lututmu dan lutut penumpang di depanmu hanya berjarak sejengkal. Kebetulan lutut yang berjarak sejengkal di depan lututku milik seorang bapak yang sedang mengusap-usap jam tangan. Jam tangan itu tidak sedang dipakainya. (mungkin jam tangan itu baru jadi masih dilihat-lihatnya)

Seorang laki-laki besar naik angkot kami yang kecil. Entah apa sebabnya, ia tiba-tiba limbung dan mencoba berpegangan pada kaca dekat laki-laki di depanku. Nahas, tangannya menyenggol jam tangan itu dan jam tangan pun terjatuh.

Laki-laki besar itu meminta maaf, dan bapak itu mengambil jam tangannya yang terjatuh. Butuh beberapa detik sampai akhirnya bapak itu bisa menemukan jam tangannya karena dalam angkot gelap. Ketika diambilnya jam tangan itu, ternyata talinya terputus dari jamnya. Dicobanya dirangkainya kembali tali jam yang copot itu dengan jamnya, namun ternyata jarum engselnya tidak ada!! Laki-laki besar di sampingnya pun meminta maaf berkali-kali.

Bapak itu lalu mencari jarum engselnya di bawah bangku. Sulit sekali mencari barang kecil dalam gelap. Aku refleks mengambil ponsel monokromku yang memiliki fitur senter. Aku bantu menyorot-nyorot bawah bangku si bapak. Laki-laki besar pun ikut mengeluarkan ponselnya dan mencoba ikut membantu. Setelah bosan mencari-cari dan tidak ketemu juga akhirnya pencarian itu disudahi. Aku lihat wajah bapak itu sedih. Bapak itu mencoba tidur tapi aku yakin ia masih memik yirkan dimanakah jarum itu. Dua kerutan di atas alisnya itu tidak bisa berbohong.

Setelah sekian lama angkot berjalan tiba-tiba bapak itu kembali mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari-cari lagi di bawah bangku. Oke, ini menjadi masalah yang lebih serius, sepertinya ini jam yang sangat berharga baginya. Aku keluarkan lagi ponsel bersenterku yang terang itu. Laki-laki besar pun ikut-ikutan lagi mencari. Kini aku lebih serius dalam pencarian, mencoba memicingkan mata dan tak boleh satu sudut pun luput dari pemeriksaan.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya ketemu juga jarum engsel yang hilang itu. Yang menemukan si bapak itu. Rupanya jarum engsel yang warnanya perak itu saru dengan warna perak lantai angkot yang sebagian terkelupas. Jarum engsel itu ditemukan dalam keadaan bengkok. Besar sekali berarti tadi tenaga si laki-laki besar sampai-sampai jarum engselnya bengkok.Bapak itu lalu memasukkan jarumnya ke dalam tas kecilnya, setelah sebelumnya ia memasukkan jam dan talinya yang putus. Lalu mencoba tidur.

Kali ini dua kerutan di atas alisnya sudah tidak ada. Walaupun masih kubanyangkan kesedihan yang dirasakannya, tapi setidaknya kini ia lebih lega.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: