DUNIA TAWA

Aku ingat sore itu agak mendung. Keluar dari gedung kantor sambil menahan lapar. Kupercepat langkahku karena kudengar pengumuman bahwa kereta sebentar lagi datang. Ah, aku tak punya cukup waktu untuk mengganjal perutku yang minta diisi ini.

Di stasiun istriku sudah menunggu. Oh senangnya. Kukatakan padanya kalau aku lapar sekali. Dijawabnya bahwa ia pun belum sempat makan siang. Ternyata kami sama-sama kelaparan. Ingin rasanya membeli sesuatu sekadar untuk mengganjal. Tapi di kota ini, waktu begitu berharga sehingga hal-hal primer pun kadang harus ditinggalkan.

Kami pun naik dalam kereta yang padatnya sulit digambarkan. Guna melupakan rasa lapar yang mulai melilit ini kami mencoba bercakap-cakap saja. Lalu kami membicarakan tentang parahnya kemacetan di kota ini, harga-harga yang tak masuk akal, buku-buku yang baru-baru ini kami baca, teman-teman yang akan menikah, juga yang baru punya anak, tentang adik-adik, juga kakak-kakak. Kami tidak ingin waktu berlalu tanpa percakapan. Lalu kami mulai berlomba membuat satu dua kalimat puisi. Satu kalimat dibuat, lalu dibalas satu kalimat lainnya. Begitu bersambung terus menerus sampai bosan. Hingga satu kali kubuat kalimat begini: “andai saja tertawa mengenyangkan, tak akan ada orang yang kelaparan”.

“andai saja tertawa mengenyangkan, tak akan ada orang yang kelaparan”

Aku tertawa. Ia tertawa. Kami tertawa-tawa. Lalu diam.

Andai saja tertawa itu bisa membuat kenyang? Tak perlulah aku bekerja di tengah kota yang padatnya tak manusiawi ini. Karena bekerja tidak lain hanyalah mencari uang untuk mengisi perut kami. Pagi-pagi jika lapar aku hanya perlu mampir ke warung kopi. Selalu ada pembicaraan yang membuat tertawa dari kawan-kawan di sana. Siang-siang jika lapar aku hanya perlu mampir ke pangkalan ojek karena disana pun banyak kawan yang pandai melawak. Malam-malam jika lapar? Nyalakan saja televisi. Semua stasiun menyiarkan acara-acara lawakan di malam hari (walaupun rata-rata acara lawakan di televisi sekarang ini tidak ada yang lucu).

Orang-orang akan tertawa pagi siang dan malam. Orang-orang yang bekerja hanya orang-orang yang mencintai pekerjaannya. Sedangkan orang-orang yang bekerja untuk mencari makan tak perlu lagi bekerja.

Lalu pelawak menjadi pekerjaan yang dicari-cari. Muncul akademi-akademi perlawakan. Orangtua menganjurkan anak-anaknya menjadi pelawak. “Buat apa jadi dokter atau insinyur? Lebih baik jadi pelawak saja karena bisa mengenyangkan kami sekeluarga”, begitu ucapnya.

Kualitas lawakan pun harus ditingkatkan karena permintaan meningkat. Lawakan-lawakan yang klise tidak lagi laku. Orang-orang butuh lawakan yang segar dan berkualitas agar tertawa pun bisa lebih lebar dan terbahak-bahak.

Para ahli setiap hari berusaha mencari lawakan-lawakan baru. Mencari hal-hal yang baru yang bisa membuat tertawa. Hingga akhirnya semua hal sudah ditertawakan. Tak ada yan tersisa lagi. Orang-orang mulai kelaparan lagi. Orang-orang mulai bekerja lagi. Tapi kali ini tanpa tawa.

***

Kereta akhirnya sampai di stasiun tujuan. Aku buyar dari lamunanku dan kembali teringat laparku. Sambil berjalan keluar stasiun, kugandeng tangan istriku. Kurogoh saku celanaku untuk memeriksa sisa lembaran uang di sana.

*cerpen ini ditulis dengan blackberry dalam perjalanan kereta Bogor-Cawang, 22 Nov 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: