FUJI-SAN SUMMIT

Angin yang sangat kencang langsung menyambut begitu kami turun dari bis di 5th station Mt Fuji. Aku langsung memakai jaket tebalku lengkap dengan tudung kepalanya. Kami –aku dan kawan-kawan– langsung berganti kostum, makan dan shalat. Masih ada waktu tiga jam menuju jam sembilan malam, dimana pendakian ini akan dimulai. Beberapa kawan baru akan sampai pos ini agak malam. Kami harus menunggu full team.

Aku dan Adin tidak bisa menduga cuaca seperti apa yang akan kami hadapi di atas sana. 5th station Mt Fuji sendiri yang memiliki ketinggian 2300 mdpl anginnya begitu kencang, maka kemungkinan puncak yang terletak 1500 m lebih tinggi tentu akan lebih ekstrim kondisinya.

Beberapa artikel yang kami baca menyebutkan kalau gunung Fuji termasuk “weekend mountain” karena bisa didaki di Sabtu-Minggu. Cukup dengan daypack dan perlengkapan yang standar orang bisa mendaki puncak Fuji. Namun kami yang sama sekali belum punya pengalaman menaiki gunung subtropis tidak mau meremehkan. Jaket tebal, jaket polar, sarung tangan, kupluk, syal dan jas hujan wajib kami persiapkan. Juga sepatu yang nyaman dan tahan dingin karena konon cuaca di gunung Fuji tidak tentu. Walaupun Tokyo sedang panas-panasnya di bulan Juli, suhu di puncak Fuji bisa sangat rendah. Berbeda dengan gunung-gunung tropis di Indonesia dimana pada bulan July-Agustus relatif cerah dan jarang sekali ada badai.

Waktu tiga jam kami habiskan ngobrol ngalor ngidul dan pelemasan. Jam sembilan lebih, tiga orang kawan yang lain akhirnya datang juga. Lengkaplah tim pendakian kami: Mas Tito sebagai ketua tim, pak Reiko, Pahala, Nets, Mas Andi, Kohar, Dian, Reka, mbak Iin, mas Fidi, aku dan Adin. Setelah briefing yang dipimpin mas Tito akhirnya tepat pukul 9.30 kami mulai melangkahkan kami meninggalkan pos 5.

Start

Dibelai angin malam yang begitu kencang dan dinaungi bintang-bintang di langit kami memulai perjalanan menuju pos 6. Aku begitu takjub dengan bintang-bintang di langit malam itu (walaupun tidak sebagus pemandangan bintang dari gunung di tanah air)  karena di Tokyo tidak pernah terlihat bintang di langitnya yang penuh kabut dan asap.

Dari pos 5 menuju pos 6 medannya datar dengan hutan menutupi di sebagian treknya. Hanya 30 menit kami akhirnya sampai di pos 6. Di pos 6 terdapat bangunan seperti pos penjaga dengan pengeras suara otomatis yang memberi penjelasan persiapan sebelum pendakian. Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan.

Pos 6-7

Dari pos 6 medan mulai menanjak. Vegetasi hutan yang menutupi di trek sebelumnya sekarang berganti dengan hamparan pasir yang membentang. Jalur yang kami lalui berupa pasir kerikil dengan trek yang zig-zag menanjak. Di sebelah kiri nampak pemandangan lampu-lampu kota dan danau Yamanaka. Angin malam yang kencang menambah dingin suasana.

Treknya cukup lebar, sekitar tiga meter. Sangat terlihat bahwa jalurnya dibuat dengan alat berat. Di sisi kanan jalur yang berupa tebing pasir kerikil, terlihat beberapa perkuatan dengan lembaran-lembaran baja. Sepanjang jalur pun di setiap kira-kira 5 m dibuat anak tangga dengan papan yang diletakkan melintang sehingga mempermudah pendaki.

Medannya sebenarnya tidak terlalu curam, namun konstan dan cukup panjang. Nafasku mulai terengah-engah. Maklum jarang olah raga dan berat badan pun di atas batas ideal. Sesekali aku harus berhenti untuk mengambil jeda.

Trek sebelum pos 7 akhirnya ditutup dengan tanjakan bebatuan yang curam. Kami harus melaluinya dengan bantuan tangan. Di kanan kiri terlihat kabel baja sebagai batas trek. Di atas terlihat pos 7 berupa hut dengan lampu yang terang tempat beristirahat para pendaki. Setelah seperempat jam kami lalui tanjakan itu akhirnya kami sampai di pos 7.

Pos 7-9

Pos 7 sebenarnya hanya berupa jalur datar yang agak lebar yang dibatasi pagar di sebelah kiri yang di bawahnya berupa jurang dan di sebelah kanan berupa hut tempat beristirahat. Hut di sini tidak bisa dimasuki cuma-cuma karena merupakan tempat istirahat berbayar. Di sisi lain terdapat warung yang menjual makanan dan minuman. Kami beristirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan. Sayang sekali beberapa kawan memutuskan tidak melanjutkan perjalanan.

Dari pos 7 medan berlanjut dengan tipe tanjakan berbatu yang sama dan cukup curam. Karena sempit dan curam membuat antrian mengular. Ya, di gunung Fuji ini pendakian sangat ramai dan padat. Maklum karena dalam satu tahun pendakian hanya dibuka pada bulan Juli dan Agustus. Selain warga Jepang sendiri yang sangat antusias untuk mendakinya, wisatawan mancanegara pun banyak yang datang ke Jepang untuk mendaki Fuji. Kami harus berdesakan mengantri untuk menaiki tanjakan batu-batu ini. Jika kami mendongak ke atas, akan terlihat antrian pendaki yang mengular dari tempat kami berdiri sampai ke puncak gunung Fuji, seperti aliran lampu yang bergerak pelan-pelan ke puncak Fuji.

Sepanjang pos 7 sampai pos 9 banyak hut-hut untuk tempat beristirahat. Memang ada beberapa pendaki yang memilih mendaki pada siang hari lalu beristirahat di hut di pos 8 atau 9 lalu dilanjutkan summit attack di dini hari. Sedangkan kami memilih untuk langsung mencapai puncak dalam satu malam.

Sampai di pos 8 arloji di tanganku menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku dan Adin hanya beristirahat barang satu dua menit saja, karena berdasarkan pengalaman kunci berhasil mendaki adalah istirahat yang tidak terlalu lama. Istirahat yang lama tidak akan memulihkan energi lebih banyak. Usahakan mempertahankan kecepatan berjalan sesuai dengan stamina tubuh. Pace-ku lebih lambat dari Adin sehingga Adin lebih banyak memimpin di depan. Memaksakan diri menyamakan pace malah bisa menyebabkan cedera dan malah akan mempersulit pendakian (pengalaman di Rinjani).

Setelah lolos dari tanjakan berbatu, medan berubah menjadi jalur kerikil yang zig-zag namun lebih sempit, hanya selebar 2 meter. Di sisi kiri yang berbatasan dengan jurang dipasang kabel baja sebagai pengaman. Angin yang bertiup di ketinggian tersebut sangat kencang sampai bisa mendorong tubuhku sampai jatuh. Aku harus beberapa kali berpegangan ke dinding tebing karena angin yang menerpa melimbungkan tubuhku. Akhirnya aku lebih memilih berjalan di sisi kanan yang berbatasan dengan dinding pasir berkerikil.

Pos 9

Dari pos 9 medan kembali lagi menjadi tanjakan berbatu yang sempit. Dari pos 9 antrian sudah mengular. Kami bahkan harus menunggu satu dua menit untuk menambah barang tiga empat langkah. Angin kencang yang menerpa semakin terasa dingin di badan. Udara yang semakin tipis membuatku sulit bernafas. Waktu pun sudah pukul 4, artinya setengah jam lagi sunrise. Target untuk melihat sunrise di puncak pun pupus melihat antrian yang begitu panjang. Toh tidak akan terlihat juga karena kabut begitu tebal dan badai terasa semakin kencang menerpa.

Awalnya aku mengira angin ini hanyalah angin biasa. Aku tidak sadar sampai langit yang mulai terang membuatku sadar bahwa jaketku basah, juga jaket Adin. Ternyata angin gunung itu tidak lain adalah awan: membawa butiran-butiran air. Sepanjang malam diterpa angin menjadikan jaket luar kami basah. Kami langsung memakai jas hujan kami untuk melindungi dari badai. Adin yang tidak tahan dingin pun mulai menggigil dan lemas karena jekatnya yang basah. Kalau dibiarkan bisa hypotermia. Aku tawarkan untuk mengganti pakaian namun Adin menolak karena kondisi sangat padat tidak leluasa.

Sisa pendakian adalah puncak penderitaan kami malam itu. Jaket yang basah, ditambah mengantri di pijakan yang miring (yang membuat sakit kaki tentunya) dan antrian yang tak kunjung berjalan. Apalagi gapura tanda puncak pun tak terlihat karena kabut yang tebal, sehingga sulit mememerkirakan berapa lama lagi kami akan sampai puncak. Setiap kami mendongak ke atas yang terlihat hanya antrian yang meliuk-liuk mengular sampai batas pandangan. Kondisi Adin yang lemas pun membuatku semakin khawatir. Turun kembali pun jauh dan tidak mudah (karena padat oleh orang), lanjut berjalan pun belum tahu berapa lama lagi. Aku memutuskan untuk bertahan sampai puncak. We will get through this.

Finally: Summit

Langit mulai terang, namun matahari tidak terlihat karena tertutup kabut yang tebal. 2 jam kemudian akhirnya kami sampai di puncak. Adin yang sudah sangat lemas pun aku papah ke dalam salah satu rumah makan, berganti pakaian dan memberinya coklat hangat. Syukurlah kondisinya membaik.

Dari puncak Fuji kami tidak bisa melihat apa-apa. Yang terlihat hanya kabut putih dan angin yang bertiup sangat kencang: badai. Kami beristirahat di rumah makan, makan sup miso untuk mengisi perut yang kosong dan dingin. Yang bisa kami lakukan hanya tertawa: ternyata gunung Fuji yang terlihat begitu cantik dari jauh, namun di atasnya tidak secantik yang dibayangkan. Tapi bagaimanapun, pendakian Fuji memberikan pengalaman baru bagi kami.

Seperti pendakian-pendakian sebelumnya, perjalanan naik gunung itu tidak lain adalah perjuangan menaklukkan diri sendiri. Perjuangan untuk menahan lelah dan penderitaan, perjuangan untuk melewan keinginan diri yang selalu berbisik untuk menyerah. Dari mendaki gunung aku belajar hidup: karena hidup adalah tentang menaklukkan diri sendiri.

karena hidup adalah tentang menaklukkan diri sendiri.

Berikut ini beberapa foto kami di atas sana.

di Tugu Puncak Fuji

di Tugu Puncak Fuji. Dari kiri ke kanan. Atas: Pahala. Tengah: Kohar, Nets. Bawah: Mas Andi, Aku, Adin, Mas Tito, Hana, Mas Reka.

Saat turun dari gunung Fuji

Saat turun dari gunung Fuji. Photo by @sureadin using iphone.

turun dari Fuji: sudah bisa tersenyum

turun dari Fuji: sudah bisa tersenyum. Photo by Hana using iphone.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: