LIVE FROM A SUITCASE

Ketika saya bersepeda kemarin sore, tiba-tiba terlintas sebuah ide: Bagaimana kalau kita hidup hanya dari sebuah koper?

Ide ini bermula ketika saya kemarin harus beres-beres apato (apartemen dalam bahasa Jepang) karena akan ada tamu yang akan berkunjung. Saat itu saya baru menyadari ternyata banyak sekali barang-barang yang saya miliki dan setelah dipikir-pikir hanya sebagian kecil saja yang sering saya gunakan. Saya yang mendarat di Jepang delapan bulan lalu dengan dua buah koper saja, seandainya hari ini saya harus pulang, mungkin harus mengemasinya dalam empat buah koper.

Kita cenderung senang membeli barang-barang baru tanpa menyadari bahwa kita sudah memlilikinya banyak di rumah. Kita membeli, membeli, lalu menumpuknya di lemari, di rak, di bufet, di meja, di rumah kita. Kita tidak menyadari bahwa barang-barang kita telah beranak-pinak sampai suatu hari kita harus pindah dari rumah itu. Barulah saat itu kita pusing dengan barang-barang yang menggunung yang harus dikemas.

Untuk mencegah beranak-pinaknya barang-barang kita tanpa alasan yang berarti, bagaimana kalau kita hidup hanya dengan sebuah koper? Seperti hendak bepergian, cobalah masukkan barang-barang yang benar-benar kita butuhkan. Bayangkan kita sedang hendak bepergian selama satu bulan, lalu pikirkan apa saja yang harus kita bawa dalam koper itu. Pastikan bahwa setiap hari nantinya, kita hanya membutuhkan barang dari dalam koper itu, bukan dari tempat lain. Lalu perhatikan barang-barang yang tertinggal di luar koper. Pertimbangkan apakah kita benar-benar membutuhkannya atau tidak, lalu buanglah atau berikan kepada orang yang lebih membutuhkannya.

Sederhananya, walaupun hidup kita menetap, cobalah hidup seperti seorang traveller. Kita hanya membawa barang-barang yang benar-benar dibutuhkan dan meninggalkan yang lainnya. Kalaupun kita hendak membeli barang yang baru, kita harus mempertimbangkan untuk membuang salah satu barang yang kita miliki karena kapasitas koper kita terbatas. Dengan begitu, sepertinya hidup terasa lebih ringan. Ditugaskan ke Banda Neira atau Boven Digul hari ini pun saya bisa berkemas tidak lebih dari tiga puluh menit. Saya jadi ingat sepatah sabda nabi:

cukuplah bekalmu di dunia ini seperti bekalnya seorang musafir

Walaupun masih sebatas ide, sepertinya ide ini patut untuk dicoba. Baiklah, saya mau mengemas koper perjalanan hidup saya.

Man and a suitcase - photo by @sureadin

Man and a suitcase – photo by @sureadin

English version of this posting is posted here

Advertisements
3 comments
  1. Wah pas banget Tom gw kmrn2 lagi kepikiran hal ini gara2 pindahan. Terutama di kategori buku dan wardrobe. Klo untuk buku gw skrg beralih ke e-book dan pake Kindle, klo buat wardrobe gw lg baca2 tentang “capsule wardrobe”.
    Nih gw taro beberapa resource yg gw temuin ya:

    http://lifehacker.com/5991832/declutter-in-your-life-and-embrace-minimalism-this-weekend
    http://rontlog.hubpages.com/hub/Minimalist-Wardrobe-for-Men
    http://into-mind.com/2013/01/06/10-step-wardrobe-revamp/

    yang link terakhir di atas sbnernya buat cewek tp setelah gw baca tips2 nya lebih ke arah holistik jadi bisa buat cowo juga.
    Ini keywords yang mgkn berguna buat elu research: declutter, minimalism, frugal living, capsule wardrobe.

    -temem

    • Hastomi said:

      Gw juga pake Kindle untuk buku, walaupun buku kertas pun masih beli, supaya bisa ditaro di rumah dan bisa dibaca orang lain, niatnya sih jadi perpustakaan,, haha,, jadi keinginan membeli buku nggak gw kategorikan sebagai “unnecessary posession”,,

      kalo wardrobe sih kayaknya emang sbagian kudu dibuang/disumbangin deh 😀

      thank for the links!!

      • ya skrg gw beli buku fisik cuma yang pengen gw koleksi aja. dan ga bakal gw bawa2 pindahan itu mah, yg penting kondisi aman di lemari di rumah di Bogor.

        my wardrobe is now down to around 25 pieces of clothing (excluding base layer like underwear, undershirt and socks). tp gw kan lg di iklim 2 musim, jd lebih gampang. klo elu mgkn hrs sdikit lbh dari itu.

        kitchen utensils elu gimana? ada potensi jadi clutter jg tuh

        sama satu lagi: gadgetry. ini yg masih ribet klo mo traveling. tiap gadget ada kabel charger nya sndiri2, earphone/headphone. gw lg cari mo beli kaya ginian di indo tp susah nyarinya:
        http://www.cocooninnovations.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: