RESONANSI

Warga Tokyo berjalan begitu cepat, seakan selalu diliputi rasa cemas. Seakan diburu-buru sesuatu, seakan mengejar-ngejar sesuatu. Seperti di sini, stasiun Tokyo, orang berlalu-lalang penuh ketergesaan. Di sini aku tidak bisa menggunakan gaya berjalanku yang biasa. Aku juga tidak bisa melihat lebih lama mural-mural di dinding stasiun. Tubuhku terdorong dari belakang bagaikan hanyut dalam sungai berarus deras. Aku bertanya dalam hati: Apakah ketergesaan ini nyata? Ataukah memang lazimnya mereka berjalan secepat ini? (sehingga tidak perlu dikatakan tergesa).

Kerumunan manusia ini, yang terburu dan tergesa, menularkan rasa cemas kepada setiap orang yang terjebak di dalamnya. Aku, atau kamu jika suatu saat mampir ke tempat ini, rasanya menjadi gelisah di tengah-tengah kerumunan ini. Ratusan manusia keluar dari satu lorong menuju lorong yang lain, dari bawah tanah dan peron yang bertingkat-tingkat di atas, bertemu di tengah hall stasiun yang luas tanpa saling menyapa. Sesekali salah dua diantaranya saling bertabrakan, namun tak ada waktu untuk berbasa-basi meminta maaf.

Gemuruh derap langkah manusia metropolitan ini memenuhi udara, dipantulkan dinding dan langit-langit, lalu seakan meresonansi setiap detak jantung manusia di sini. Aku yang sangat “Indonesia” berusaha menahan diri untuk tidak bertanya: “Hei, ada apa sih? mengapa kalian semua terburu-buru?”.

Aku menepi, lalu menarik nafas dalam-dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: