POLITIK

Seorang teman pernah mengutip penyataan Thomas Jefferson “Jika masuk surga harus melalui partai politik, maka aku memilih untuk tidak masuk surga”. Ah, saya hanya tertawa saja mendengarnya. Kalau tidak salah itu salah sayu kutipan dalam surat T Jefferson untuk Francis Hopkinson. Kalau membaca keseluruhan suratnya, tentu maknanya tidak sesempit itu.

15 Tahun reformasi nampaknya belum menghasilkan politik yang sehat. Masyarakat masih skeptis dengan politik. Politik identik dengan korupsi, suap, nepotisme. Sehingga banyak masyarakat, bahkan kalangan terpelajar “emoh” ikut-ikutan politik. “No political view. Golput. Lebih baik bekerja untuk kebaikan sekitar saja. Nggak usah ikut-ikutan politik”. Begitu sebagian besar berkata.

Padahal, dalam sistem demokrasi seperti ini, satu-satunya cara agar Indonesia semakin maju adalah dengan politik. Politik adalah arena pertarungan ideologi, pemikiran, strategi: dengan tujuan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih bemartabat, lebih sejahtera.

Bisa saja kita berbuat baik dengan sekitar kita, namun hasilnya tidak akan terlalu besar. Bukan menafikan, tapi bayangkan apabila kita memiliki kekuatan politik, maka sedikit kebijakan saja bisa berpengaruh kepada nasib dua ratus juta lebih anak bangsa ini.

—-

Jika menengok media saat ini, beritanya tidak jauh dari korupsi politisi, suap, dan sebagainya. Orang-orang yang berada di luar panggung menghujat, mengutuk para pajabat-pejabat tersebut. Tapi mereka, para pejabat itu, tidak lain adalah representasi watak masyarakat Indonesia. Wakil rakyat, tidak lain adalah wakil masyarakat kita. Korupsi, nepotisme yang dipertontonkan oleh pejabat-pejabat itu tidak lain adalah representasi dari korupsi dan nepotisme yang memang sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Hanya saja pada level tinggi yang terlihat, yang terekspos. Pada level di bawah itu, terjadi hal yang sama, dari menengah sampai paling bawah. Dari senayan sampai pedagang di pasar. Cobalah telisik lagi lebih jeli. Perhatikan pola-polanya, dari tingkat presiden, gubernur, walikota, lurah. Lihat lagi di lingkungan kita; kampus, perusahaan, pelayanan umum, sekolah? Bukankah terlihat fenomena yang sama?

Jadi masalahnya adalah bukan politik yang kotor, tapi bangsa kita yang memang masih seperti ini. Menyalahkan politik adalah keliru, karena politik adalah representasi bangsa ini.

Untuk mengubah nasib Indonesia, kita harus menguasai politik. Tapi fokus pada politik saja hanya tentu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Harus dibarengi kerja keras mengubah mindset korup bangsa ini menjadi mental yang jujur. Menjadi mental yang bersih. Mengubah mindset ingin lekas mendapat hasil menjadi mindset bekerja keras untuk mencapai hasil. Dan ini tidak bisa dikerjakan sendiri, tapi harus bersama-sama. Berjamaah. Tidak ada politik yang sempurna, tapi dengan politik masih jauh lebih baik dari bekerja sendiri-sendiri.

//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: