DEATH

Kematian adalah rahasia terbesar umat manusia. Manusia, dengan segala akal dan pengetahuannya mencoba menjawab sepenggal pertanyaan berikut:

What is after death?

Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan mati itu sendiri, dan sayangnya tidak ada jalan untuk kembali hidup setelah mati.

Berbagai macam teori tentang apa setelah kematian sangat beragam. Mulai dari dilahirkan kembali sebagai makhluk lain sesuai karmanya, mati dan tidak dihidupkan kembali, mati lalu tiada kehidupan lagi setelahnya.

Ajaran Islam yang saya imani mengajarkan adanya kehidupan akhirat setelah kematian. Saya tidak ambil pusing dengan berbagai teori tentang kehidupan setelah mati. Sudah sangat gamblang dijelaskan dalam Al-Quran bahwa setelah mati adalah kehidupan akhirat yang kekal. Setiap amal baik dan buruk akan dibalas. Yang berat timbangan baiknya akan dimasukkan dalam surga, dan yang berat amal buruknya akan dimasukkan dalam neraka.

Bagi manusia akhirat merupakah hal yang gaib, dan dijelaskan dalam Al-Quran bahwa salah satu ciri orang yang beruntung (muflihun) adalah percaya pada hal yang gaib.

Mati Suri
Fenomena mati suri benar adanya. Mungkin ini satu-satunya jalan yang mungkin bisa menggambarkan keadaan sesaat setelah kematian.

Ayah saya pernah bercerita, bahwa salah satu familinya di Lampung pernah mengalami mati suri. Kira-kira begini kisahnya:


Saat sakaratul maut, saya merasa jiwa saya lepas dari tubuh saya. Perlahan tapi pasti, mulai dari tubuh bagian bawah menuju ke bagian atas terasa mati. Seakan-akan ditarik dari kepala, lalu nyawa saya tertarik keluar melalui kaki. Saya merasa melayang di atas tubuh saya yang terbujur kaku. Saya bisa melihat tubuh saya terbujur kaku, dan sanak famili saya mengelilingi saya.

Saya melayang, terasa seperti berjalan tapi tidak menggunakan kaki. Saya melewati terowongan yang begitu terang dan panjang. Sepanjang terowongan itu muncul gambar-gambar fragmen kehidupan saya, mulai dari kecil sampai dewasa. Bukan gambar mati, tetapi gambar yang hidup.

Di ujung terowongan tersebut ada cahaya yang sangat terang. Ketika saya sampai di sana ada pintu dan ada seorang penjaga. Saat saya hendak masuk ke dalam pintu itu, sang penjaga melarang saya masuk. Ia mengatakan saya belum saatnya masuk ke dalam pintu tersebut. Lalu saya merasa kembali ke tubuh saya dan akhirnya sadar.

Satu dua cerita yang saya dengar langsung mengenai mati suri memiliki gambaran yang hampir sama. Mengalami pengalaman keluar dari tubuh (out of body experience), melalui terowongan, melihat cahaya, pintu, dan roh orang-orang yang telah mati sebelumnya.

Pertanyaan selanjutnya, benarkah pengalaman mati suri adalah pengalaman menuju akhirat? Atau itu hanya aktivitas neuronal akibat kekurangan oksigen atau penyebab lain?

Para ahli mengkategorikan pengalaman mati suri sebagai near death experience. Blackmore dan Torscianko dalam penelitiannya tahun 1988 menyatakan, mati suri adalah kematian secara klinis yang bersifat sementara dan tidak bisa disamakan dengan kematian akhir.

Nyatanya pengalaman serupa bisa juga didapatkan dalam proses perdukunan dan meditasi. Kalau pernah membaca “partikel” karya Dewi Lestari, tentu ingat bagaimana digambarkan sang tokoh dengan bantuan zat tanaman melakukan meditasi yang ekstrim. Ia merasa jiwanya lepas, bertemu dengan roh keluarganya yang sudah meninggal, merasakan ketenangan dan pencerahan. Benarkah roh yang ditemui itu berasal dari entitas eksternal? Atau itu hanya aktivitas neuronal yang memicu gambaran yang berasal dari memori bawah sadar subjeknya sendiri?

Firasat

Benarkah seseorang yang akan meninggal mempunyai firasat akan kematian? Sepertinya tidak. Dari pengalaman saya terhadap beberapa kejadian wafatnya famili dan sahabat, saya tidak meilhat mereka memiliki firasat akan kematian yang sudah dekat. Kematian datang begitu saja, tanpa memberi manusia warning. Mereka yang meninggal tidak pernah tau, dan saat sakaratul maut itulah baru sadar bahwa ajalnya sudah tiba, waktunya telah habis di dunia.

Jika ajalnya sudah tiba, tidak akan maju ataupun mundur sedikitpun

Ajal

Ajal sudah ditentukan untuk setiap anak manusia. Ajal menjadi rahasia setiap manusia dan tidak akan terungkap sampai tiba saatnya.

Ajal bisa datang kapan saja dimana saja. Siang hari atau malam hari. Di jalan, di rumah, di kantor, bahkan di tempat paling aman sekalipun.

Apakah saat itu warga Aceh yang sedang bersantai di rumahnya tahu bahwa tsunami akan menyapu bersih kampungnya pagi itu? Apakah warga Jogja saat itu tahu bahwa beberapa saat lagi gempa akan merobohkan tempat tinggalnya? Apakah para penumpang Sukhoi tahu bahwa pesawat mereka akan meledak di puncak Salak dan tidak menyisakan korban selamat satupun?

Begitupun saya, kita. Bisa jadi ajal datang sekian jam kedepan, atau sekian hari, bulan, tahun. Kita tidak akan pernah tahu. Mungkin di kereta ini tempat saya berdiri dan menulis blog, mungkin di kantor, di rumah, di tempat kerja. Tidak ada yang tahu. Yang pasti, ia akan datang pada waktunya.

Kita tak perlu risau akan kapan datangnya ajal itu. Yang perlu kita risaukan, sejauh mana kita siap menghadapi maut. Amal apa saja yang sudah kita kerjakan selama ini? Cukupkah untuk membawa kita ke Surga? Cukupkah untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT?

Tidak perlu sedih berlebihan apabila keluarga atau sahabat kita lebih dahulu wafat. Suatu saat kita akan menyusul ke sana. Lebih baik bersedih dengan amal yang belum seberapa, dan dosa yang telah kita perbuat. Lebih baik mempersiapkan sebaik mungkin untuk ajal yang sudah pasti akan tiba. Suatu saat nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: