EXPLORING BLORA

Saya ingat waktu itu hari Sabtu. Hari Sabtu jam kerja sampai jam 3, dan Adin sudah tak sabar menuggu di rumah. Saya tentu berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu supaya bisa cepat pulang. Tapi karena satu dua hal mendadak saya harus pulang sore. Sore itu juga tiba-tiba ekspatriat dari Jepang datang dan meminta rapat dengan bos saya keesokan harinya (baca:Minggu). Alhasil saya harus menyiapkan data terupdate proses konstruksi sampai hari itu, dan itu artinya saya pulang malam.

Untungnya bos saya tidak meminta ditemani rapat keesokan harinya. Jam 9 malam saya pulang dipinjami mobil kantor karena shuttle sudah tidak ada. Sekalian saja saya minta izin pinjam mobilnya untuk seharian besok jalan-jalan, siapatau Adin mau.

—–

Awalnya kami malas berjalan-jalan dan memilih santai-santai saja di rumah. Tapi kalau saja ada tempat wisata yang dekat sepertinya asyik juga. Ke Solo, Jogja atau kaki gunung Lawu membutuhkan lebih dari tiga jam perjalanan. Kalau tidak menginap nantinya hanya berbuah kelelahan saja. Lebih baik ke tempat yang dekat saja atau diam di rumah.

Blora!! satu jam perjalanan dari Cepu. Tapi ada apa disana? Kebetulan kami sedang ingin berenang, dan kami mencoba mencari kolam renang yang lumayan di Blora. Hasil gugling kami mendapatkan info adanya pemandian di perbukitan bernama pemandian Sayuran. Namun saya sangsi dengan keberadaan pemandian itu karena hasil gugling hanya memerlihatkan foto lama (foto tahun 70-80) dan tidak ada foto baru dari pemandian itu. Saya mencoba lagi mencari catatan orang yang sudah pergi ke sana dan hasilnya hanya catatan orang yang hendak ke sana tapi nyasar tidak menemukannya pemandian Sayuran ini. Hal ini justru menimbulkan penasaran yang amat sangat di benak saya.

Memikirkan lokasi di perbukitan membuat kami sangsi untuk menemukan pemandian itu (lupa niat awal ingin berenang, malah menjadi ingin menemukan pemandian kuno yang hilang). Kami mencoba mencari alternatif tempat wisata di Blora dan menemukan beberapa dan mencatatnya. Diantaranya taman Tirtonardi, waduk Tempuran, water boom, dan kampung Bluron.

Berbekal catatan hasil gugling, pengamatan via google earth untuk mengetahui medan dan sketsa arah lokasi kami berangkat dari Cepu menuju Blora. Jam 10 kami sampai di kabupaten Blora. Di pusat kota plang penunjuk arah menuju Taman Budaya Tirtonardi terpampang dengan jelas. Setelah berkeliling kota Blora, kami memutuskan untuk mampir ke Taman Tirtonardi.

Kami sudah mengikuti arah petunjuk tapi sampai jalan utama berakhir kami tidak menemukan taman itu. Kami mencoba memutar balik dan beberapa kali kami berputar akhirnya kami menemukan juga tempat yang dimaksud dengan Taman Budaya Tirtonardi. Yang kami bayangkan yaitu semacam taman yang luas dan ramai oleh pengunjung, tapi yang ada hanyalah taman kecil yang sepi. Hanya ada beberapa motor parkir dan satu mobil yang parkir. Ternyata Taman Tirtonardi sudah tidak ada. Yang tersisa hanya bagian depan dimana terdapat kolam renang, sehingga yang dibuka hanya kolam renang itu.

Kami yang tidak mau rugi sudah ke Blora tidak dapat apa-apa akhirnya memutuskan menuju waduk Tempuran. Menurut penjaga Taman Tirtonardi, saya harus mengikuti jalan menuju Rembang lalu akan ada plang belok kanan yang menunjukkan arah ke Tempuran. Saya memacu mobil menuju arah utara dari kota Blora.

Jalan yang lengang menggoda saya untuk memacu mobil cukup kencang sehingga belokan ke kanan menuju Tempuran terlewat. Untungnya mata saya sempat menangkap plang kecil menunjukkan arah lokasi wisata itu. Setelah berbalik kami berbelok dan terlihat plang menuju lokasi wisata tersebut.

Plang tersebut cukup bagus, dan kesimpulan saya plang tersebut dibuat oleh dinas pariwisata. Di plang tersebut terdapat beberapa lokasi wisata dan terpampang jarak yang harus ditempuh. Dan yang membuat kami semakin penasaran adalah salah satunya adalah pemandian Sayuran.

Saya yang sudah hampir melupakan pemandian Sayuran tentu sedikit senang dengan fakta bahwa pemandian itu ternyata ada dan terkenal (mungkin terkenal di masa silam). Namun kami memutuskan untuk menuju Waduk Tempuran saja dimana kata Adin ada water boom di dekat waduk Tempuran.

Kami melewati jalan aspal yang mulus. Kanan kiri hanya terlihat ladang dan sawah. Tidak terlalu jauh akhirnya kami sampai di waduk Tempuran. Benar saja ternyata ada water boom di dekat sana.

Waduk Tempuran sendiri saat itu sedang kering. Terlihat di sebagian dasar waduknya ditumbuhi rerumputan. Sebegitu keringnya cuaca di Blora sampai di sebagian sisi air waduk itu kering sampai dasarnya.

—–

Jangan bayangkan water boom ini seperti yang ada di Jakarta, water boom di Tempuran hanya tempat yang kecil, terdiri dari dua kolam dan beberapa perosotan untuk anak. Siang itu cukup ramai oleh pengunjung. Memang, dalam keadaan cuaca yang panas sangat cocok untuk bermain air.

Kami bermain air lalu memesan makan siang. Ternyata menu ikan yang ditawarkan enak dan harganya sangat murah. Setelah makan dan shalat kami meninggalkan water boom.

—-

Belok kanan kembali ke jalan semula, namun kami memutuskan belok kiri dan menuju arah pemandian sayuran. Saya tergoda dengan plang penunjuk arah yang mengatakan lokasinya hanya beberapa kilometer dari titik tersebut.

Penunjuk Arah Wisata Sayuran

Kami melewati jalan aspal yang halus yang terasa semakin naik. Lalu lama kelamaan kondisi jalan rusak dan medan menanjak. Di depan kami tampak bukit kapur yang menjulang. Sepertinya jalan ini menuju ke arah sana.

Saya yang sudah mempelajari arah lokasi pada beberapa persimpangan mengambil jalan menuju puncak bukit tersebut. Sepertinya memang ada jalan lain melipir bukit dan menuju balik bukit. Kemungkinan besar orang yang tidak menemukan pemandian Sayuran dalam blog di internet itu salah mengambil jalan di persimpangan. Memang ada dua tiga persimpangan sepanjang jalan.

Benar saja akhirnya kami menemukan pemandian Sayuran. Kami mengira pemandian Sayuran terletak di puncak bukit, tapi nampaknya ia terletak agak di bawah. Jalan masih berlanjut berupa jalanan berkelok ke atas. Saya penasaran ingin mencapai puncak dan meneruskan menuju puncak bukit.

Jalan semakin sempit dan jelek. Di ujung belokan ada bangunan putih dengan plang tulisan berhuruf jawa kuno. Ada plang juga yang menjelaskan bahwa tempat tersebut untuk pertapaan dan orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Setelah belokan itu ada tanah lapang dan jalan masih menerus berkelok ke atas. Karena khawatir tidak ada putaran di atas kami memarkir mobil di tanah lapang tersebut dan meneruskan dengan berjalan kaki.

Wilayah Pertapaan

Wilayah Pertapaan

Kami, lebih tepatnya saya, sangat penasaran akhir dari jalan itu. Setelah berjalan sebentar nampak jalan dipalang dan ada tanda stop. Di sampingnya ada rumah putih, dan ada ibu-ibu dan anak kecil di halaman.

Kami bertanya jalan ini menuju kemana dan ibu itu menjawab bahwa kita tidak boleh ke sana, hanya orang-orang tertentu yang boleh ke sana. Kami berbincang sebentar. Sepertinya Ibu itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut mengenai tempat pertapaan itu. Saya melirik ada beberapa kliping koran di dinding teras dengan juduk “Upacara Pengantin Walang Seto”. Saya mencoba mencari keyword tersebut via ponsel saya namun tidak menemukan hasil.

—-

Kami kembali turun dan parkir di tepi jalan dekat pemandian Sayuran. Pemandian ini sudah terbengkalai tak terurus. Airnya sudah tidak ada dan di dalam kolam itu anak-anak bermain bola. Ya, ukuran kolamnya standar internasional, baik kedalaman, panjang dan lebarnya. Kalau melihat lokasinya memang ini dulunya kolam yang cukup besar dan ramai. Terletak di perbukitan, dari pemandian itu bisa melihat pemandangan yang indah. Namun entah kenapa keadaannya seperti ini, apakah karena sumber air yang mengering atau alasan lain.

Pemandian Sayuran, kondisinya sudah tidak terawat

Kami berbincang dengan sepasang orang tua yang sedang mencari kayu bakar. Katanya untuk pemandian ini akan ada rencana perbaikan dari pemerintah. Kami mencoba bertanya juga tentang tempat pertapaan seto. Katanya tempat itu adalah tempat kepercayaan. Di puncak bukit itu dimakamkan sang Kakek pendiri aliran kepercayaan itu. Beberapa keturunannya juga dimakamkan di sana. Pada waktu-waktu tertentu para pengikutnya bertapa di hutan di puncak bukit itu. Jalan menuju puncak bukit itu adalah jalan yang dipanag yang kami datangi sebelumnya.

Setelah berbincang sejenak, kami mengambil beberapa gambar di pemandian ini, lalu kembali ke mobil dan memacu mobil turun kembali menuju kota Blora.

Kami mampir di warung sate, lalu mampir ke workshop kerajinan jati. Setelah itu kami kembali ke Cepu. Sekitar waktu maghrib kami sudah sampai di rumah, membersihkan badan dan beristirahat setelah berpetualang seharian.

//

*ditulis dalam perjalanan dengan kereta ekonomi dari Cepu menuju Jakarta

//

Advertisements
4 comments
  1. Ton Gatho Ngrejeng said:

    Sungguh mengenaskan, melihat alur ceritanya membuat tidak betah berlama2 disana. Ohhh blora nasibmu tak sebagus wisatamu……podo nelongsone……!!!

  2. salam said:

    itulah blora yg sebetulnya kondisinya seperti di papaua kata orang

  3. Agus said:

    pemandian sayuran ditutup setelah menelan korban beberapa anak yang tenggelam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: