HUJAN DAN IBU PENJUAL LONTONG

Pagi ini hujan turun deras sejak waktu fajar, sekitar pukul 4 pagi. Bau tanah yang terkena hujan dan udara sejuknya membuat mata rasanya ingin dipejamkan kembali. Kasur dan bantal terlihat begitu menggoda untuk dihampiri. Namun saya tidak tergoda mengingat waktu shalat sebentar lagi. Saya takut tertidur sampai matahari terbit. Kemudian saya keluar kamar dan mendapati beberapa teman kamar sebelah sudah bangun. Karena hujan sangat deras, kami tidak bisa keluar kosan, jadi kami subuhan bersama dalam salah satu kamar.

Pagi ini saya punya agenda yang penting di Bogor. Sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya, jadi saya harus hadir. Dari perhitungan waktu tempuh Depok-Bogor dan jarak antara stasiun dan lokasi, amannya saya harus berangkat dari depok pukul 7 pagi. Sambil menunggu pukul 7 saya membuka komputer dengan maksud membaca beberapa bacaan yang belum sempat saya baca. Namun apa daya, nampaknya hujan membuat mata saya semakin berat dan tahu-tahu saya terbangun kembali pukul  7 lewat.

Saya menyibak tirai jendela dan melihat langit yang masih gelap dan hujan yang masih deras. Saya bergegas bersiap dan kembali menunggu berharap hujan sedikit mereda. Namun yang diharapkan nampaknya tidak datang. Hujan kali ini awet sekali. Wajar, ini medio februari dan sudah beberapa hari ini tidak turun hujan, jadi sekalinya hujan akan seperti ini. Apa boleh buat, saya mengambil payung dan menerobos hujan pagi itu. Sunday morning rain is falling.

Bicara mengenai hujan kami orang Bogor sudah terbiasa. Semua orang tahu Bogor dijuluki kota hujan. Kami hidup berdampingan, saling menghargai satu sama lain dan pantang mengumpat kepada hujan. Kami menganggap hujan sebagai berkah, sehingga kami merasa bahagia ketika hujan turun. Gerimis atau deras, tenang atau badai, kami menerima apa adanya. Dalam keadaan apapun, alasan hujan tidak akan diakui disini. Misalnnya anda telat datang dalam suatu pertemuan dan Anda mengatakan, “Maaf Bu, saya telat, tadi hujan deras”, maka akan dijawab dengan ketus “Semua orang tahu Bogor itu kota hujan!!”. Kalau di Jakarta mungkin sama dengan kita mangkir atau telat dengan alasan macet, maka akan dijawab “Semua orang tahu Jakarta macet!! Anda harus berangkat lebih awal!!”.

Payung yang saya pakai berjuang keras malawan hujan dan angin pagi itu. Saya harus memegangnya erat agar tidak tertiup angin. Celana panjang bagian bawah saya sudah basah terkena air hujan. Beruntung saya akhirnya sampai di stasiun sehingga bisa berteduh dari hujan. Sambil menunggu kereta datang saya memesan segelas kopi dan roti di warung stasiun, sekedar mengganjal perut yang belum diisi.

Di sebelah kanan saya duduk ibu-ibu paruh baya. Katanya di Ciracas hujan turun sejak pukul dua pagi. Kami berbicara tentang tempat tinggal, pekerjaan dan sebagainya. Topik pembicaraan semakin berkembang. Ia melanjutkan ceritanya bahwa ia ditawari tempat di kantin psikologi untuk berjualan. Harga sewanya sebenarnya cukup murah, namun yang membuat ia keberatan adalah uang sewa dua tahun harus dibayar di depan. Tentu saja kalau saya jadi ibu ini saya juga akan berpikir dua kali, karena kita belum tahu prospek penjualan di lokasi itu. Saat ini ia sudah membuka kedai soto di bilangan Tebet.

Beberapa saat kemudian datang ibu paruh baya lagi kali ini membawa dagangan. Ia menjual lontong dan gorengan. Ia mengeluh karena biasanya minggu pagi kampus ramai oleh orang-orang yang berolahraga. Namun pagi ini tidak ada satupun. Alhasil dagangannya belum laku.

Ibu Penjual : Dik Sarapan, lontong, gorengan,,

Roti yang tadi sudah habis tapi perut saya manja masih minta diisi. Saya tergiur oleh lontong dan gorengan si Ibu.

Saya : Ada apa saja, Bu?

Ibu Penjual : Ada lontong dan gorangan, Dik

Ibu penjual mengambil duduk di sebelah kiri saya dan membuka penutup kotak dagangannya. Saya lalu mengintip isi dompet saya dan kecewa karena tidak ada uang pecahan kecil. Saya mencari-cari recahan untuk dikumpulkan dan akhirnya terkumpul dan hanya bisa untuk membeli dua item dagangan si Ibu. Ibu penjual sudah membuka plastik, tangan kanannya sudah siap mengambil lontong dan gorengan.

Saya : Lontong satu sama bakwan satu bu.

Ibu Penjual : Apa lagi?

Ibu penjual berharap saya membeli lebih. Saya juga masih lapar dan sebenarnya ingin membeli lebih. Namun karena tidak ada pecahan kecil saya urung membeli.

Saya : Sudah tidak ada lagi, Bu

Ibu Penjual : Oh akhir bulan ya (sambil tersenyum)

Di titik ini saya tertegun. Maksud saya tidak ada lagi adalah tidak ada uang kecil lagi. Namun yang ditangkap ibu penjual saya tidak ada uang lagi untuk membeli lebih. Saya jadi berpikir, berarti ada orang lain yang pada tanggal sekian tidak bisa makan dan hanya bisa mengganjal laparnya dengan sebuah lontong dan sebuah gorengan. Saya jadi malu, betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada saya.

Kereta AC tujuan Bogor datang. Ibu penjual soto di kanan saya sebal dan berucap, “Dari tadi kereta AC terus, mana kereta ekonominya nih?”. Sedangkan Ibu penjual pun sambil sedikit malu bilang bahwa ia ingin naik sampai satu stasiun setelahnya saja. Saya tahu ia tidak membeli tiket. Saya berharap tidak ada petugas yang memeriksa nanti. Dan ternyata tidak ada petugas yang memeriksa tiket, Ibu penjual pun turun setelah sebelumnya ada penumpang yang membeli dagangannya. Tak lupa ia menyapa  saya sambil tersenyum, “Duluan dik”. Saya hanya bisa membalas dengan segaris senyum.

 

19 Februari 2012

 

Advertisements
1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: